HUBUNGI AKU DI 0818253301 atau 08567893775 Sang Guru Erotis
BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 30 Oktober 2009

GURU SEKSI DI PLPG


Wah ... wah ... Itu komentar pertama ketika mencermati peserta PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) yang notabene guru Republik Indonesia, yang karena banyak yang harus dipelajari lagi supaya menjadi guru profesional yang artinya mendapat tunjangan profesi guru.

yang terjadi di lapangan, guru Peserta PLPG banyak yang berpakaian yang tidak selayaknya dipakai oleh guru (seperti ilustrasi tulisan ini). Memang mereka membungkus tubuh mereka dengan pakaian, kerudung juga. Akan tetapi, kalau celana hitam itu, hem putih itu, ketat membungkus tubuh mereka apa yang terjadi di benak murid? Apalagi kerudung itu hanya untuk membungkus kepala dan leher, sedang dada mereka menonjol dibiarkan mengelembung... apa ini tidak lebih menarik?

Bagaimana UMS? Apa tidak ada tindakan yang lebih Islam?

 

Senin, 19 Oktober 2009

GURU KORBAN SERTIFIKASI BERJATUHAN


Sungguh biadab, mungkin demikian sungut para guru yang tidak lulus sertifikasi dan harus mengikuti PLPG selama tujuh hari. Akhir PLPG cerita terus berlanjut. Tidak lulus dan tidak lulus lagi. Fustrasi! Berat menanggung beban malu tidak menjadi GURU PROFESIONAL dengan tunjangan profesi satu juta lima ratus (untuk guru swasta) dan gaji pokok (PNS).

Wah, sudah tiwas menghara-harap lulus, kenyataannya tidak lulus juga. akhirnya buka baju di kelas PLPG. Mending yang buka baju si manohara, kalau yang satu ini justru MEMUAKKAN!

Selasa, 16 Juni 2009

Guru adalah Seniman



Kebanggaan atas sebuah profesi kadang-kadang tidak bisa diukur dengan uang. Seorang seniman misalnya, tidak akan pernah karyanya hanya dinilai oleh uang, meskipun dia tidak menolak lukisannya dibeli dengan uang dengan nominal tertentu. Demikian pula guru.

Profesi guru sama dengan profesi seniman. Tangan-tangannya tidak akan pernah berhenti bekerja untuk menghasilkan karya seni, seperti Habibie, Soekarno, Soeharto, Natsir, Agus Salim, Ki Hajar Dewantoro, dan semiliar lebih manusia pintar dan cerdas di muka bumi ini. Guru tidak pernah berhenti untuk berharap bahwa suatu ketika muridnya akan mampu mengubah wajah dunia seperti Einstein.

Sisi cerlang-cemerlang guru yang lain adalah dia tidak ingin dan tidak akan berharap bahwa muridnya akan menyebutnya di depan masyarakat cerdik di dalam simposium, seminar, dan kongres. Dia tidak sepicik itu. Itulah mentalitas guru. Guru yang benar. Guru yang mengajarkan ilmu dan kehidupan kepada murid-muridnya, dan bukan mengejar uang.

Analogi: jika kita selama ini menerima tawaran untuk minum teh, kopi, susu, dan makan makanan yang enak-enak, mengapa ketika menjadi guru kita tidak menolak untuk minum racun dan makan akar pasakbumi? Mengapa guru menenggelamkan dirinya pada rawa-rawa kehidupan yang banyak lintahnya?

Senin, 15 Juni 2009

Guru yang bukan guru

Baru saja pengumuman kelulusan Ujian Nasional bagi siswa SMA, MA, dan SMK. Seperti biasa: ada yang menangis karena lulus, ada yang menangis dan mengutuk gurunya karena tidak lulus, ada yang teriak-teriak (gila, kali), ada yang loncat-loncat, dan yang seronok ada yang merayakannya dengan pesta sex bebas dan minum minuman air api. Benar-benar dahsyat!

Padahal waktu bagi mereka masih panjang. Mereka harus kuliah (jika punya uang dan ingin merancang masa depan supaya tidak menjadi antek neo-liberalisme dan kapitalisme); mereka harus bekerja karena orang tua memang mewariskan kemiskinan dan kepayahan; dan mereka harus menyerah pada nasib: menikah, karena pacarnya hamil lewat kredit dan kartu ATM. Mereka harusnya berpikir bahwa hidup ini tidak hanya hari ini, tetapi masih ada hari esok, esok, dan esoknya lagi.

Tapi, itulah!

Mereka mencoret-coret baju. Gurunya ikut mencoret-coret di bagian dada siswa putri. Wah, ini mesti guru favorit ya!

Selasa, 26 Mei 2009

Guru DAN PEmiLu

Pemilihan presiden yang terhormat segera dimulai. Semua calon Presiden mendatangi calon pemilihnya, mulai dari pesantren, pasar, wong ndeso, sampai sekolah dasar. Semua didatangi yang tentunya membawa oleh-oleh atau selembar kertas sebagai sumbangan. Lucu juga ya ....

Tinggallah sang guru harap-harap cemas, cemas harap-harap. Namun, SBY sebagai bekas Presiden yang mencalonkan presiden (dulu pernah ngomong kalau dia mau jadi presiden sekali saja, eh .. keterusan....) lagi sudah menggenggam kartu truf, memegang leher guru (TK, SMP, SMA) dan dosen, yang tentunya jika dia tidak terpilih, yakh TAMATLAH SUDAH RIWAYAT DANA SERTIFIKASI KESEJAHTERAAN.

Jadi, berhati-hatilah para guru dan dosen. Ndak nyontreng SBY ya silakan mimpi aja!



Jumat, 22 Mei 2009

SERTIFIKASI DAN NASIB GURU: SEBUAH DAGELAN

 
Dana profesi untuk guru sudah turun. tentu ini berita yang sangat menarik. Tiap semester ada dana Rp 8.550.000. jika ini dikalikan sejak kelulusan = Rp 25.juta lebih. wah: sepeda motor, cicilan rumah, terbayar sudah! 

Dampak dari penurunan dana ini adalah KECEMBURUAN. kATA orang Jawa mah : ANAK E WONG AKEH ha ha ha

Selasa, 12 Mei 2009

GuRU dan DEMo


Sekarang ini guru dan demo seakan tidak bisa dipisahkan.
Di mana-mana guru mendemo:
karna perut lapar
karna utang
karna cicilan belum dibayarkan
karna kriditan tidak lunas-lunas
karna anak sakit demam
karna dapur sudah dua hari tidak berasap
karna kesejahteraan yang dijanjikan tidak turun-turun

harga barang-barang kebutuhan naik
harga tidak kenal kompromi
anggota dewan menyelingkuhi para waiters dan cadii.


Para guru tidak kehabisan materi demo.
Semua didemo.
(Sementara mbah Guru hanya mlongo:
"kok begitu ya mental guru.
Kalau tidak mau gaji sedikit mepet,
kalau tidak mau kesejahteraannya disunat sana dan sini,
kalau tidak mau miskin
kalau tidak mau berpuasa seminggu dua kali,
ya jangan jadi guru")

Di jalan-jalan protokol
para guru memasang spanduk:
Mana janjimu, pak menteri
katanya mau menyejahterakan kami
dengan memberi tunjangan melalui sertifikasi
supaya kami setara dengan masyarakat di atas ambang kemiskinan.
Angkat kam
i menjadi pegawai negeri
untuk lebih konsentrasi mendidik anak-anak negeri
supaya menjadi menteri (dan menyengsarakan kami).

Mbah guru geleng-geleng kepala:
"Lha wong menjadi guru itu hanya pilihan
antara kere dan miskin
yang penting pengabdian yang tulus.
Kalau sudah memakai kata 'mengabdi'
mbok ya jangan ngomel, nggrundel, demo nyeret anak dan istri.
Kalau tidak mau miskin ya jangan jadi guru.
ganti profesi: menteri, anggota dewan, tukang pukul, debt collector,
tukang kredit, juragan trasi atau krupuk,
atau membuka SA-LON saja, sambil miara ayam bangkok.
Wah.. wah sudah-sudah.
Jadi guru jangan suka menuntut
yang namanya rejeki itu rahasia Allah, ndak usah diburu, gitu lho!